Peranan Inseminasi Buatan dalam Peningkatan Populasi Ternak

PERANAN INSEMINASI
BUATAN (IB) DALAM PENINGKATAN POPULASI TERNAK


     Usaha peternakan merupakan sektor ekonomi yang penting, baik di negara beriklim sedang maupun di negara-negara tropis di dunia. Pengalaman menunjukkan bahwa produksi ternak di daerah tropis dan sub-tropis merupakan suatu sistem kompleks yang  hendaknya jangan dilihat hanya dari sudut ekonomi, namun juga dari segi sosio-budaya dan ekologis. Ternak memainkan berbagai ragam fungsi di negara-negara berkembang di daerah tropis (termasuk Indonesia) dan sub-tropis.
     Kebijakan pemerintah dalam pembangunan peternakan di Indonesia salah satunya adalah upaya dalam mencukupi kebutuhan protein hewani yang erat kaitannya dengan perkembangan pola hidup masyarakat yang semakin maju dan dinamis. Produk protein hewani salah satunya daging, dapat dihasilkan dari berbagai komoditas ternak baik ternak besar, kecil maupun unggas. Ternak besar terutama sapi mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyediaan daging, karena permintaan daging sapi dari tahun ke tahun yang semakin meningkat.
     Berbagai kebijaksanaan pemerintah telah diupayakan dalam rangka mempertahankan stok populasi dasar sapi yang cukup ideal untuk dapat mensuplai kebutuhan akan daging, seperti program pengendalian terhadap pemotongan sapi betina produktif, menekan angka kematian ternak melalui program pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan dan untuk mempercepat angka pemenuhan kebutuhan daging sapi dengan pemberian rekomendasi impor ternak (feeder steers) untuk memenuhi kebutuhan daging berkualitas tinggi.
      Kementerian Pertanian Republik Indonesia telah mencanangkan program swasembada daging sapi 2014 untuk mendukung program ketahanan pangan dan program diversifikasi pangan nasional. Langkah-langkah strategis yang ditempuh dalam program swasembada tersebut salah satunya adalah optimalisasi Inseminasi Buatan (IB) dan Intensifikasi Kawin Alam (INKA).
Pelaksanaan kegiatan Inseminasi Buatan (IB) pada ternak merupakan salah satu upaya penerapan teknologi tepat guna yang merupakan pilihan utama untuk peningkatan populasi dan mutu genetik sapi. Melalui kegiatan IB, penyebaran bibit unggul ternak sapi dapat dilakukan dengan murah, mudah dan cepat, serta diharapkan dapat meningkatkan pendapatan para peternak.
     Keberhasilan pelaksanaan IB pada ternak sapi telah mencapai 2.116.159 akseptor dengan kelahiran 1.333.075 ekor pada tahun 2009 Berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan IB sampai saat ini masih belum sesuai dengan harapan. Hal ini terkait dengan masih adanya berbagai kendala dan permasalahan teknis yang perlu ditangani bersama.

KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN TEKNOLOGI IB

Beberapa keuntungan teknologi IB:

1. Meningkatkan produksi ternak secara cepat;
2. Meningkatkan mutu genetik ternak;
3. Menghindari penularan penyakit melalui perkawinan;
4. Dapat mengawinkan ternak yang berbeda ukuran;
5. Peternak tidak perlu memelihara pejantan;
6. Dapat mengawinkan ternak yang berbeda jarak;
7. Semen dapat disimpan dalam waktu lama walaupun pejantan sudah mati.

Beberapa kelemahaan teknologi IB:

1. Petugas inseminator yang kurang terampil mengakibatkan keberhasilan IB rendah;
2. Petani peternak yang tidak mengetahui tanda-tanda birahi / terlambat dalam melaporkan birahi mengakibatkan keberhasilan IB rendah;
3. Adanya beberapa peternak yang belum mau melaksanakan IB karena dianggap tabu.

Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan IB:

1. Ternak Betina
Ternak betina yang mempunyai kelainan alat reproduksi dan tanda-tanda birahi yang kurang jelas akan menyulitkan penentuan waktu IB
2.  Petugas Inseminator
Inseminator yang kurang terampil dalam melaksanakan IB (deteksi birahi, disposisi
semen dll)
3. Pemilik/ Petugas Kandang
Pemilik atau petugas kandang kurang terampil dan mengerti dalam deteksi berahi sehingga keterlambatan melaporkan kepada Inseminator
4. Semen Beku
Kualitas semen yang kurang baik dan kesalahan dalam penanganan semen beku (kekurangan N2 cair dan pemindahan yang terlalu sering)

   Dalam kegiatan Inseminasi Buatan di lapangan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan seharusnya bisa dicermati oleh semua pihak, baik dari petugas Inseminator maupun oleh Peternak sehingga program swasembada daging bisa tercapai. Peran aktif Inseminator dalam memberikan penyuluhan dan sosialisasi sangat diharapkan oleh peternak dalam memahami tentang Inseminasi Buatan, karena masih banyak peternak yang belum paham tentang program tersebut.
      Untuk daerah jawa program IB sudah sangat familier, tetapi untuk daerah Indonesia bagian timur memang masih terkendala masalah sarana dan prasarananya. Kebutuhan akan straw dan N2 cair masih sangat kurang, karena bahan-bahan tersebut harus didatangkan dari Jawa. Disamping itu tingkat kesadaran masyarakat tentang pola pemeliharaan ternak yang baik masih kurang. Ternak masih banyak yang diliarkan atau diumbar, sehingga pengamatan terhadap birahi tidak bisa ter-record dengan baik. Hal ini tentunya sangat berpengaruh besar terhadap tingkat populasi ternak saat ini yang semakin lama bisa semakin menurut karena tingkat kelahirannya yang sedikit.
     Program IB diharapkan dapat meningkatkan populasi ternak di Indonesia, sehingga jumlah ternak dari tahun ke tahun akan semakin meningkat. Peningkatan jumlah populasi ternak akan sangat berdampak pada dunia usaha peternakan khususnya para peternak, sehingga program IB masih sangat dibutuhkan dan harus dikembangkan khususnya di wilayah Indonesia bagian Timur.