Cara Mudah Mendeteksi Sapi Bunting

Usaha peternakan sapi di Indonesia didominasi oleh usaha skala rumah tangga dimana kepemilikan ternak hanya 2 sampai lima ekor. Pada kondisi tersebut sudah barang tentu modal yang dimiliki peternak tidak begitu banyak, sehingga teknologi yang digunakan juga sederhana dan murah.

Dalam usaha pembibitan sapi yang hasil akhirnya adalah pedet lepas sapih, deteksi kebuntingan dini merupakan point penting untuk mengontrol produktivitas induk. Semakin cepat seekor ternak terdeteksi bunting atau tidak akan semakin baik, jika seekor sapi sudah terdeteksi bunting maka dapat segera mendapat perlakuan selayaknya sapi bunting untuk mendapatkan pedet yang berkualitas. Sebaliknya jika setelah dikawinkan jelas terdeteksi ternak tidak bunting maka pada siklus birahi berikutnya dapat dikawinkan, apabila terlewat 1 siklus boleh dikatakan peternak rugi waktu selama 1 bulan dan tentunya rugi biaya pakan dalam waktu tersebut. Untuk deteksi kebuntingan banyak cara yang dapat dilakukan antara lain :

  1. Palpasi rectal, yaitu dengan perabaan langsung, cara ini membutuhkan ketermapilan khusus sehingga tidak semua orang dapat melakukannya. Biasanya dilakukan oleh dokter hewan atau petugas yang telah mengikuti pelatihan pemeriksaan kebuntingan. Deteksi kebuntingan dengan cara ini biasanya pada kebuntingan diatas 2 bulan, dan sulit dilakukan pada kebuntingan kurang dari 2 bulan.
  2. RIA (Radio Immuno Assay) yaitu teknik dengan mengukur kosentrasi hormon. Dengan metode ini hampir semua hormon dapat diukur kadarnya, akan tetapi secara komersial, metode RIA terlalu mahal digunakan sebagai metode untuk mendeteksi kebuntingan ternak (Partodihardjo, 1992)
  3. Secara kimiawi, yaitu dengan memanfaatkan asam sulfat (H2SO4), Menurut Partodihardjo (1992), asam sulfat yang dapat digunakan untuk deteksi kebuntingan. Ditambah Satriyo (2001), metode deteksi ini telah diterapkan untuk mendeteksi kebuntingan ternak sapi, di dalam urine sapi yang sedang bunting mengandung hormon estrogen yang dihasilkan oleh plasenta.

Dari ketiga cara diatas penggunaan asam sulfat untuk deteksi kebuntingan menjadi alternative yang murah dan mudah dilakukan, tanpa harus memiliki keterampilan khusus.

            Prinsip kerja deteksi kebuntingan menggunakan asam sulfat adalah akan membakar zat organik dalam hal ini hormone yang terdapat pada urine sapi bunting. Partodihardjo (1992), menyatakan larutan 2 ml urine ditambah 10 ml aquadest kemudian dibakar dengan 15 ml asam sulfat pekat akan menimbulkan gas fluorescence di permukaan cairan. Gas tersebut timbul karena adanya hormon esterogen di dalam urine. Hormon esterogen diproduksi jika seekor ternak telah mengalami perkawinan dan berada pada proses kebuntingan. Ditambah oleh Illawati (2009), penggunaan volume asam sulfat pekat 0.5 ml yang lebih efektif untuk deteksi kebuntingan. Penggunaan asam sulfat pekat 0.5 ml menghasilkan warna yang berubah dari kuning muda menjadi keunguan ini menunjukan kebuntingan yang jelas.

            Prosedur kerja deteksi kebuntingan menggunakan asam sulfat (H2SO4) sebagai berikut :

  1. Siapkan alat dan bahan yaitu : gelas minum kaca bening (tanpa gambar), kertas putih sebagai alas gelas dan batang pengaduk. Bahan yang digunakan; urine sapi/kambing/domba yang baru (1 – 2 cc), air aquadest steril/air mineral (10 cc) dan asam sulfat (H2SO4)/ dapat pula menggunakan air accu (accu zur) (1cc).
  2. Taruh gelas kaca bening diatas sehelai kertas putih.
  3. Tampunglah urine segar saat kencing langsung dalam wadah yang bersih. Merangsang kencing  ternak sapi : siram punggung ternak dengan air dan tunggu beberapa saat. Merangsang kencing kambing/domba : bekep mulut ternak sampai meronta dan tunggu beberapa saat.
  4. Ambil 2 cc urine tersebut dan masukkan dalm gelas kaca bening.
  5. Tambahkan sebanyak 10 cc air aquadest steril/air mineral, kemudian aduk merata.
  6. Tambahkan cairan air aki sebanyak 1 cc.
  7. Aduk sampai rata dan kemudian tunggu 5- 10 menit.

 

Amati apakah urine tersebut berubah warna atau tidak, jika urine berubah warna dari kuning menjadi keungunan berarti ternak tersebut bunting, sebaliknya bila tidak terjadi perubahan warna maka ternak tersebut tidak bunting. Semakin pekat larutan H2SO4 yang digunakan maka perubahan warna yang terjadi akan semakin cepat.

Deteksi kebuntingan ini dapat dilakukan pada hari ke-24 sampai 32 setelah perkawinan. Sedangkan deteksi kebuntingan yang umum dilakukan sekarang adalah dengan palpasi per rectal yang dapat dilakukan 2-3 bulan setelah perkawinan/inseminasi dan semakin tepat dengan bertambahnya umur kebuntingan.           

 

SELAMAT MENCOBA…