Mengenal Penyakit Rabies

oleh drh. Ignatius Guritno
(Widyaiswara BBPP Kupang)
Published : Selasa, 28 Nopember 2017, 03:31:21 am

Rabies atau penyakit anjing gila merupakan penyakit infeksi akut pada susunan syaraf pusat (otak). Penyakit ini merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan oleh hewan ke manusia melalui gigitan hewan penular rabies (GHPR) seperti anjing, kera, musang, anjing liar, kucing.

Etiologi
Penyakit rabies disebabkanoleh virus yang tergolong dalam Lyssavirus, family Rhabdoviridae.

Gambar 1. Virus rabies

Epidemiology
Kejadian rabies di Indonesia secara kronologis sebagai berikut: Jawa Barat (1948); Sumatera Barat, JawaTengah dan JawaTimur (1953); Sumatera Utara (1956); Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara (1958); Sumatera Selatan (1959); Aceh (1970); Jambi dan Yogyakarta (1971); Bengkulu, DKI Jaya dan Sulawesi Tengah (1972); Kalimantan Timur (1974); Riau (1975); Kalimantan Tengah (1979); Nusa Tenggara Timur (1999). Sampai tahun 2005 daerah yang bebas rabies hanya Jawa, Bali, NTB dan Papua. Pada tahun 2005 terjadi wabah sporadik di beberapa kota di Jawa Barat. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. Pada tanggal 1 Desember 208 bahwa Bali dinyatakan terjangkit wabah Rabies.

Di Indonesia, sebanyak 25 dari 34 provinsi tertular rabies. Provinsi bebas rabies antara lain Papua, Papua Barat, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, NTB, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, dan DKI Jakarta. Tahun 2014 tercatat 42.958 kasus GHPR (Gigitan Hewan Penderita Rabies), paling banyak di Provinsi Bali yaitu 21.161 kasus, diikuti NTT 5.340 kasus dan Sulawesi Utara 3.601 kasus. Kasus kematian karena rabies (Lyssavirus) turun dari 195 pada tahun 2009 menjadi 81 tahun 2014.  Di Bali, rabies tersebar di seluruh pulau dengan insidens tertinggi di 2 Kabupaten, yaitu Denpasar danBadung.
Manusia dan semua hewan berdarah panas rentan terhadap rabies. Di Indonesia hewan yang rentan rabies yang pernah dilaporkan adalah kerbau, kuda, kucing, leopard, musang, meong congkok, sapi dankambing. Musang, kelelawar dan tikus liar dapat diinfeksi virus secara buatan di laboratorium. Penyebar rabies yang utama adalah anjing (92%), kucing (6%) dan kera (3%).

Cara Penularan
Virus rabies ditularkan melalui luka gigitan oleh hewan yang menderita rabies. Masa inkubasi virus pada anjing dan kucing rata-rata sekitar 2 minggu, tetapi dilaporkan dapat terjadi antara 10 hari sampai 8 minggu, pada manusia 2-3 minggu, dengan masa inkubasi paling lama 1 tahun tergantungpada:
a.    Jumlah virus yang masukmelaluiluka
b.    Dalam tidaknya luka
c.    Luka tunggal atau banyak
d.    Dekat atau tidaknya luka dengan susunan syaraf pusat (otak)
e.    Perlakuan luka pasca gigitan

Gambar 2. Pathogenesis infeksi virus rabies

Gejala Klinis Pada Anjing dan Kucing.
Gejala penyakit dikenal dalam 3 bentuk:
1.    Bentuk ganas (furious rabies) : masa eksitasi panjang, kebanyakan akan mati dalam 2-5 hari setelah tanda-tanda gila terlihat.
2.    Bentuk diam atau dungu (dumb rabies) : palisis cepat terjadi, masa eksitasi pendek.
3.    Bentuk asimptomatis: hewan tiba-tiba mati tanpa menunjukkan gejala-gejala sakit.
Gejala klinis yang sering terlihat adalah:
a.    Fase prodromal : hewan mencari tempat yang dingin dan menyendiri, tetapi dapat menjadi agresif dan nervous.
b.    Fase eksitasi : hewan akan menyerang siapa saja yang ada disekitarnya dan memakan benda asing.
c.    Faseparalisis : kornea mata kering dan mata terbuka, semua reflek hilang, kovulsi dan mati.

Gambar 3. Anjing yang menderita rabies (mulut terbuka disertai keluarnya air liur yang berlebihan)

Diagnosa
Mendiagnosa penyakit rabies berdasarkan riwayat penyakit, gejala klinis, pemeriksaan spesimen secara laboratoris. Spesimen segar adalah kepala atau otak. Kepala dimasukkan dalam kontainer dalam kondisi dingin (berisies). Otak (hypocampus) diambil secara aseptis dimasukkan dalam larutan gliserin 50% dan disimpan dalam termoses. Sebagian otak disimpan dalam buffer formalin.
Pemeriksaan laboratorium meliputi:
1.    Histopathology : pewarnaan Sellers, FAT untuk melihat dan menentukan adanya negri bodies
2.    Serology : AGPT, FAT, serum netralisasi (SN), CFT dan ELISA
3.    Molekuler : Real Time PCR, dan sekuensing
4.    Isolasi virus : penyuntikan suspense otak pada mecit atau inokulasi pada biakan sel neuroblastoma.

Gambar 4. Negri bodies di neuronotak      Gambar 5. Deteksi virus rabies dengan indirect Fluorescent Antibody Test pada otak

Pencegahan, pengendalian dan pemberantasan
1.    Pencegahan.
Anjing mulai di vaksinasi pada umur 8 minggu.
2.    Pengendalian dan Pemberantasan
a.    Eliminasi
Pembunuhan anjing liar / yang tidak bertuan dengan penembakan, cara yang terbaik adalah menangkap anjing dengan jaring kemudian diamankan.
b.    Pemberantasan daerah rabies :
1).     Metode pembebasan sebagai berikut:
-     Vaksinasi dan eliminasi hanya dilakukan pada anjing.
-     Vaksinasi dilakukan hanya pada anjing yang berpemilik
-     Eliminasi dilakukan terhadap anjing tidak berpemilik dan anjing berpemilik tapi yang tidak divaksinasi.
2).    Strategi pembebasan, lokasi sasaran dibagi dalam 3 kategori, yaitu:
-     Lokasi tertular: yaitu desa / kelurahan tertular yang dalam 2 tahun terakhir pernah ada kasus, klinis, epidemiologis, laboratoris dan desa-desa disekitarnya.
-     Lokasi Terancam: yaitu desa / kelurahan di luar lokasi tertular dalam satu wilayah kecamatan
-     Lokasi bebas kasus: yaitu kecamatan yang berada diluar lokasi tertular yang terancam.
3). Tindakan pada masing-masing lokasi:
Pada lokasi tertular dan terancam:
-    Dilakukan vaksinasi dan eliminasi 100% dari populasi anjing minimal pada lokasi tertular.
-    Vaksinasi dan eliminasi massal dilakukan serentak. Secara umum perbandingan vaksinasi dan eliminasi adalah 70% : 30%, namun secara spesifik di tiap daerah tergantung pada kebijakan daerah masing-masing yang disesuaikan dengan situasi sosial budaya setempat.
-    Setelah kegiatan massal vaksinasi dan eliminasi dilanjutkan kegiatan konsolidasi pada anjing yang baru lahir, mutasi dan belum divaksinasi pada kegiatan massal.
-    Bila adakasus gigitan positif rabies, maka di wilayah lokasi tertular tersebut segera diadakan vaksinasi dan eliminasi.
-    Vaksinasi dan eliminasi massal di lokasi tertular dimulai dari lokasi kasus mengarah keluar (sentripetaal).
-    Pada saat yang bersamaan dari batas luar lokasi terancam dilakukan vaksinasi dan eliminasi mengarah ke dalam lokasi tertular (sentrifugal).
-    Menangkap dan melaksanakan observasi hewan menderita rabies selama 10-14 hari, terhadap hewan yang mati selama observasi atau dibunuh, maka harus diambil specimen untuk dikirim ke laboratorium veteriner untuk didiagnosa.
Diluar lokasi tertular dan terancam
-     Tindakan vaksinasi dan eliminasi hanya dilakukan pada lokasi rawan yaitu lokasi yang merupakan jalur lalu-lintas anjing yang sulit dikontrol.
c.    Bila terjadi kasus rabies maka dilakukan tindakan sebagai berikut:
-    Pertolongan pertama pada manusia yang terkena gigitan hewan penular rabies:
•    Cuci luka gigitan memakai sabun/ deterjen dengan air mengalir selama 10-15 menit
•    Beri antiseptic pada luka gigitan (povidone iodine atau alcohol 70%)
•    Segera kepuskesmas/ rumahsakit / pusat pelayanan rabies (rabies center) untuk mendapatkan pertolongan selanjutnya.
-    Hewan penggigit supaya dibawa ke dinas peternakan terdekat untuk dilakukan observasi paling lama 2 minggu.
-    Bila hewan mati maka diambil hypocampus dalam bentuk segar (dalames) dalam bahan pengawet glyserin, kemudian dibawa secepatnya ke laboratorium veteriner terdekat untuk peneguhan diagnosa.

Gambar 6. Flowcart penatalaksanaan kasus gigitan hewan tersangka/rabies

Daftar Pustaka
Anonymus, 2012, Manual Penyakit Hewan Mamalia, Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan KesehatanHewan, Kementerian Pertanian RI, Jakarta.
Anonymus, 2014, Situasi dan Analisis Rabies, Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
Anonymus, 2012, OIE Reference Laboratory, http://www.qia.go.kr/english/html/Animal_livestock/02AnimalLivestock_OIE08.jsp
Craig EG, 2012, Infectious Disease of the Dog and Cat Fourth edition, Saunder, Elsevier Inc.,St. Louis, Missouri.
Lina Purnamasari dan Kadek Awi DP, 2017, Pengendalian dan Manajemen Rabies pada Manusia di Area Endemik, Continuing Profesional Development (CDK-248/ vol 44 No.1).